Perbedaan Narkotik dan Psikotropik: Penggolongan & Dampak

Perbedaan Narkotik dan Psikotropik

Perbedaan Narkotik dan Psikotropik – Narkotik dan psikotropik adalah kata-kata yang sering digunakan dalam hubungannya dengan obat-obatan dan zat-zat terkait. Meskipun kedengarannya mirip, keduanya merujuk pada kategori obat-obatan yang berbeda.

Memahami perbedaan antara keduanya sangat penting bagi individu dan masyarakat secara keseluruhan untuk melawan penyalahgunaan obat dan mempromosikan kesejahteraan umum. Narkotik dan psikotropik adalah istilah yang digunakan untuk mengklasifikasikan obat-obatan berdasarkan efeknya terhadap tubuh manusia.

Penting untuk dicatat bahwa meskipun narkotik dan psikotropik mungkin memiliki klasifikasi dan efek yang berbeda, kedua kategori ini memiliki potensi untuk disalahgunakan dan menimbulkan risiko terhadap kesehatan fisik dan mental individu. Penyalahgunaan zat-zat ini dapat menyebabkan kecanduan, gangguan kesehatan mental, dan kerusakan fisik yang parah, antara lain.

Dua kategori obat ini memiliki klasifikasi yang berbeda dan efek yang berbeda pula terhadap tubuh manusia. Penting bagi individu untuk menyadari perbedaan ini agar dapat membuat keputusan yang tepat mengenai penggunaan obat-obatan dan berkontribusi pada masyarakat yang lebih sehat dan aman, berikut ini stkipmktb.ac.id merangkum perbedaan dari keduanya.

Pengertian Narkotik dan Psikotropik

Pengertian Narkotik dan Psikotropik

Narkotik dan psikotropik adalah dua kategori zat yang memiliki efek psikoaktif dan dapat memengaruhi sistem saraf pusat manusia. Meskipun keduanya sering kali dikaitkan dengan penggunaan yang tidak semestinya, terdapat perbedaan penting antara narkotik dan psikotropik.

1. Narkotik

Narkotik adalah suatu jenis obat yang terbuat dari atau memiliki kandungan zat adiktif yang dapat menimbulkan ketergantungan fisik dan psikis pada penggunanya. Narkotik biasanya digunakan untuk menghilangkan rasa sakit atau memberikan efek euforia. Beberapa contoh narkotik yang umum ditemukan di Indonesia adalah kokain, ganja, opium, heroin, dan metamfetamina.

Penggunaan narkotik tanpa resep dokter atau secara tidak sah merupakan pelanggaran hukum di Indonesia. Narkotik juga memiliki efek samping yang sangat berbahaya bagi kesehatan fisik dan psikologis pengguna. Misalnya, penggunaan narkotik jangka panjang dapat merusak organ tubuh seperti hati, paru-paru, dan ginjal. Selain itu, penggunaan narkotik juga dapat menimbulkan gangguan pada sistem saraf dan menyebabkan gangguan tidur, penurunan nafsu makan, dan masalah kesehatan lainnya.

2. Psikotropik

Psikotropik adalah suatu jenis obat yang mempengaruhi fungsi otak dan aktivitas mental penggunanya. Psikotropik umumnya digunakan untuk mengobati gangguan kejiwaan seperti depresi, kecemasan, dan gangguan tidur. Beberapa contoh psikotropik yang sering digunakan adalah ekstasi, sabu-sabu, dan sedatif-hipnotik.

Penggunaan psikotropik harus berdasarkan resep dokter yang sah. Penggunaan psikotropik secara tidak wajar atau berlebihan dapat menyebabkan efek samping yang serius dan bahkan berbahaya bagi penggunanya. Misalnya, penggunaan psikotropik yang berlebihan dapat mempengaruhi keseimbangan kimia otak dan menyebabkan masalah mental seperti depresi dan kecemasan.

Penggolongan Narkotika dan Psikotropika

Penggolongan Narkotika dan Psikotropika

Narkotika dan psikotropika digolongkan berdasarkan dampaknya pada sistem saraf pusat dan efek psikoaktif yang dihasilkan. Berikut adalah penggolongan narkotika dan psikotropika dalam konteks undang-undang narkotika dan psikotropika di Indonesia:

1. Narkotika

Narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman, baik sintetis maupun semi sintetis, yang dapat menyebabkan ketergantungan fisik dan atau psikologis. Narkotika digolongkan menjadi tiga golongan berdasarkan potensi penyalahgunaan dan dampaknya:

  1. Golongan I: Narkotika dalam golongan ini memiliki potensi penyalahgunaan dan dampak kesehatan yang sangat tinggi. Contohnya adalah heroin, kokain, morfin, dan metadon. Penggunaan dan peredaran narkotika golongan I dilarang keras.
  2. Golongan II: Narkotika dalam golongan ini memiliki potensi penyalahgunaan dan dampak kesehatan yang cukup tinggi. Contohnya adalah amfetamin, ekstasi (MDMA), dan metamfetamin. Penggunaan narkotika golongan II juga dilarang dan dapat dikenakan hukuman.
  3. Golongan III: Narkotika dalam golongan ini memiliki potensi penyalahgunaan yang lebih rendah, namun tetap dapat membahayakan kesehatan. Contohnya adalah kodein, tramadol, dan ketamine. Penggunaan narkotika golongan III juga tunduk pada pengaturan dan pengawasan yang ketat.

2. Psikotropika

Psikotropika adalah zat atau obat yang mempengaruhi fungsi otak dan aktivitas mental, serta dapat menyebabkan perubahan suasana hati, persepsi, dan perilaku. Psikotropika juga digolongkan berdasarkan potensi penyalahgunaan dan dampaknya:

  1. Golongan I: Psikotropika dalam golongan ini memiliki potensi penyalahgunaan yang sangat tinggi dan dapat menyebabkan dampak kesehatan serius. Contohnya adalah LSD, heroin, dan kokain. Penggunaan dan peredaran psikotropika golongan I dilarang.
  2. Golongan II: Psikotropika dalam golongan ini memiliki potensi penyalahgunaan yang cukup tinggi. Contohnya adalah amfetamin, metilfenidat, dan ekstasi (MDMA). Penggunaan psikotropika golongan II juga dilarang dan dapat dikenakan sanksi hukum.
  3. Golongan III: Psikotropika dalam golongan ini memiliki potensi penyalahgunaan yang lebih rendah. Contohnya adalah diazepam, alprazolam, dan codeine. Penggunaan psikotropika golongan III tunduk pada pengawasan dan regulasi ketat.

Dampak Penggunaan Narkotik dan Psikotropik

Dampak Penggunaan Narkotik dan Psikotropik

Penggunaan narkotika dan psikotropika dapat memiliki dampak serius pada kesehatan fisik, mental, dan sosial individu. Berikut adalah beberapa dampak negatif yang dapat ditimbulkan akibat penggunaan yang tidak tepat atau penyalahgunaan zat-zat tersebut.

1. Dampak Kesehatan Fisik

  1. Kerusakan Organ: Penggunaan narkotika tertentu, seperti heroin atau kokain, dapat menyebabkan kerusakan organ internal, seperti hati, ginjal, dan paru-paru.
  2. Gangguan Pernapasan: Beberapa narkotika dan psikotropika dapat menghambat sistem pernapasan, yang mengakibatkan masalah pernapasan hingga bahaya overdosis.
  3. Gangguan Gastrointestinal: Penggunaan narkotika dan psikotropika tertentu dapat menyebabkan gangguan pencernaan dan masalah gastrointestinal, seperti mual, muntah, dan gangguan saluran pencernaan.
  4. Gangguan Kardiovaskular: Beberapa zat dapat meningkatkan tekanan darah dan risiko penyakit jantung, yang berpotensi berakibat fatal.

2. Dampak Kesehatan Mental

  1. Gangguan Mental: Penggunaan jangka panjang narkotika dan psikotropika dapat menyebabkan gangguan mental serius, seperti depresi, kecemasan, dan gangguan bipolar.
  2. Gangguan Perilaku: Penggunaan psikotropika tertentu dapat menyebabkan perubahan perilaku dan emosi, termasuk agresi, paranoia, dan hilangnya kontrol diri.
  3. Gangguan Kognitif: Penggunaan narkotika dan psikotropika dapat mempengaruhi kognisi, seperti memori, perhatian, dan pemecahan masalah.

3. Dampak Sosial

  1. Ketergantungan dan Penyalahgunaan: Penggunaan yang berlebihan dan berkelanjutan dapat menyebabkan ketergantungan fisik dan psikologis, yang sulit dihentikan tanpa bantuan profesional.
  2. Kerusakan Hubungan Sosial: Penyalahgunaan narkotika dan psikotropika sering kali mengganggu hubungan sosial dan keluarga, karena perubahan perilaku dan prioritas pengguna.
  3. Penurunan Produktivitas: Penggunaan yang kronis dapat mengakibatkan penurunan produktivitas di tempat kerja atau sekolah karena gangguan kesehatan mental dan fisik.

Bahaya Overdosis dan Kematian: Penggunaan berlebihan atau overdosis narkotika dan psikotropika dapat menyebabkan efek samping serius, termasuk penurunan kesadaran, pernapasan yang terhenti, dan bahkan kematian.

Perbandingan Narkotik dan Psikotropik

GolonganNarkotikPsikotropik
Golongan 1Kokain, Ganja, Opium, Heroin, Metamfetamina
Golongan 2Ekgonina, Morfin, Metobromida, Codein, Methadone, LSD, Hashish, BarbituratEkstasi, Sabu-sabu, Sedatif-Hipnotik
Golongan 3Amfepramona, Flunitrazepam, Mefenorex, Pemolina, Pemolin, PhendimetrazineDelete
Zat AdiktifKokain, Ganja, Opium, Heroin, MetamfetaminaAlkohol, Nikotin, Kafeina, Zat Desainer
Motif PenyalahgunaanMenghilangkan rasa sakit, Mendapatkan efek euforiaRekreasi, Doping

Tabel di atas menunjukkan perbedaan antara golongan narkotik dan psikotropik. Tabel ini mungkin tidak secara eksklusif mencantumkan semua jenis narkotik dan psikotropik yang ada, namun memberikan gambaran umum mengenai perbedaan keduanya.

Zat adiktif adalah zat-zat yang dapat menyebabkan ketergantungan fisik dan psikis pada penggunanya. Penggunaan zat adiktif dapat menimbulkan efek euforia, perubahan mood, dan ketergantungan yang menyebabkan seseorang terus menggunakan zat tersebut meskipun mengetahui dampak negatif yang ditimbulkannya.

Penting untuk memahami bahwa penggunaan zat adiktif, baik narkotik maupun psikotropik, dapat menyebabkan masalah kesehatan yang serius, baik fisik maupun mental. Oleh karena itu, penggunaan zat-zat ini harus dihindari atau dilakukan dengan pengawasan medis yang ketat.

Kesimpulan

Nah, begitulah, teman-teman, perbedaan antara narkotik dan psikotropik. Semoga penjelasan ini telah membantu kamu untuk memahami betapa pentingnya memahami apa yang kita konsumsi dan bagaimana itu dapat mempengaruhi kita. Pastikan untuk selalu berhati-hati dan jauhkan diri dari bahaya yang mungkin terjadi dengan menggunakan obat-obatan sembarangan. Terima kasih telah membaca artikel ini dan jangan sungkan untuk datang kembali ke sini lain kali. Sampai jumpa lagi, ya!

Bagikan:

[addtoany]